Serang – KKM Tematik Literasi Kelompok 71 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menggelar Seminar Literasi bertema “Buku sebagai Jendela Dunia: Menumbuhkan Budaya Literasi untuk Semua dalam Meningkatkan Pengetahuan Masyarakat” di Aula Kantor Desa Tenjoayu, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, Sabtu (11/7). Kegiatan ini menjadi salah satu program unggulan KKM dalam mendorong budaya baca dan meningkatkan pengetahuan masyarakat.
Seminar Literasi KKM Tematik UNTIRTIRTA Desa Tenjouayu
Seminar dihadiri perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), ketua RT/RW, tokoh masyarakat, serta perwakilan Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Provinsi Banten yang turut menyerahkan donasi buku bagi TBM Tenjoayu.
Ketua KKM Tematik Literasi Kelompok 71, Dwi Adi Nugroho, mengatakan seminar tersebut menjadi ruang kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dalam membangun kesadaran pentingnya literasi.
“Kami senang dapat berkumpul bersama masyarakat melalui seminar literasi ini. Semoga kegiatan ini memberikan manfaat dan menjadi langkah awal menumbuhkan budaya membaca di Desa Tenjoayu,” ujarnya.
Perwakilan BPD Desa Tenjoayu, H. Hayat, S.Pd., mengapresiasi penyelenggaraan seminar tersebut. Menurutnya, rendahnya minat baca generasi muda perlu menjadi perhatian bersama di tengah tingginya penggunaan media sosial.
“Anak-anak di Tenjoayu banyak yang fokus pada media sosial sehingga minat membacanya masih rendah. Karena itu budaya literasi harus terus diperkuat,” katanya.
Dalam seminar tersebut, Duta Baca Provinsi Banten, Suherman, S.T., M.M., atau yang sering dikelal Leo Ikals hadir sebagai narasumber. Ia menegaskan bahwa literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, berdiskusi, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan.
“Literasi bukan sekadar membaca, tetapi kemampuan memahami informasi dan menggunakannya untuk meningkatkan kualitas hidup,” ujarnya.
Suherman menjelaskan bahwa buku menjadi jendela untuk membuka wawasan, memperluas pengetahuan, memperoleh pengalaman baru, hingga meningkatkan keterampilan. Menurutnya, manfaat membaca dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, ibu rumah tangga, petani, hingga pelaku UMKM.
Ia juga menyoroti penggunaan gawai yang kerap dianggap sebagai penyebab rendahnya minat baca. Namun, menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada teknologi, melainkan pada kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan waktu.
“Tantangan terbesar bukan gawainya, tetapi kebiasaan. Budaya membaca dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti membaca 15 menit setiap hari atau satu lembar buku secara konsisten,” jelasnya.
Melalui kisah perjalanan pribadinya, Suherman mengajak masyarakat menjadikan membaca sebagai budaya di lingkungan keluarga. Ia meyakini kebiasaan tersebut akan melahirkan generasi yang lebih berpengetahuan, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif, penyerahan sertifikat kepada narasumber, serta penyerahan donasi buku dari Forum Taman Baca Masyarakat Provinsi Banten kepada TBM Tenjoayu. Acara ditutup dengan foto bersama sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat gerakan literasi di Desa Tenjoayu.
Melalui seminar ini, KKM Tematik Literasi Kelompok 71 Untirta berharap budaya membaca semakin tumbuh di tengah masyarakat sehingga mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendorong terciptanya masyarakat yang lebih berpengetahuan.