Serang – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H/2025 M di Kampung Kubang Kepuh Blok Kubang Wadas, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, berlangsung meriah dan penuh kekhidmatan pada Kamis (18/9/2025). Acara yang dipusatkan di Mushola Nurul Huda dan didukung berbagai mushola dan masjid setempat ini diisi dengan tradisi panjang mulud, dzikir, hingga pembacaan sholawat sebagai wujud kecintaan umat kepada Rasulullah SAW.

Sebanyak 75 panjang mulud hasil karya warga diarak menuju masjid setempat. Arak-arakan yang diiringi lantunan shalawat Nabi, tabuhan terbang gede, dan pertunjukan seni rudat menghadirkan suasana semarak. Kehadiran para pendzikir dari berbagai mushola dan masjid—antara lain Masjid Nurul Yaqin (Kubang Kepuh), Musholah Baitul Mukminin (Kubang Kepuh), Mushola Al Hidayah (Kp. Cinagreg), Masjid Al Mukhlisin (Kp. Cinagreg), serta Masjid Al Hidayah Sukalila – Cilegon menambah semaraknya perayaan.

“Acara ini diadakan agar warga semakin bersemangat memeriahkan tradisi panjang mulud. Ini adalah bentuk ungkapan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW,” ungkap Santosa, Ketua Panitia Peringatan Maulid Nabi.

Ketua DKM Mushola Nurul Huda Kubang Wadas, Jajuli, menambahkan bahwa tradisi dzikir mulud bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan budaya yang kuat. “Nilai dari tradisi dzikir mulud adalah wujud rasa syukur dan cinta kepada Nabi. Tradisi ini memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus menjadi simbol kerukunan, persatuan, gotong royong, dan keselarasan sosial,” ujarnya.

Peringatan Maulid Nabi kali ini mengangkat tema “Meneladani Akhlak Mulia Nabi Muhammad SAW untuk Meningkatkan Toleransi dan Kepedulian Sosial”. Tema ini menegaskan pentingnya meneladani sikap Nabi dalam menghormati perbedaan, membangun hubungan harmonis, serta menjauhi ekstremisme dengan mengamalkan Islam yang moderat, penuh kasih sayang, dan berkeadilan.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia, Santosa menegaskan bahwa acara ini bukan hanya seremonial belaka. “Peringatan Maulid Nabi adalah ikhtiar kolektif kita untuk menghidupkan kembali kecintaan kepada Rasulullah, menggali keteladanan dari sirah Nabi, dan mempererat ukhuwah di antara kita,” katanya.

Tradisi panjang mulud ditutup dengan pengantaran kembali para pendzikir ke mushola dan masjid asal mereka, diiringi shalawat dan semangat kebersamaan. Masyarakat percaya bahwa tradisi ini bukan hanya memperkuat semangat beribadah, tetapi juga menjaga persatuan di tengah kehidupan modern.

“Melalui tema yang kita angkat pada tahun ini, kami berharap acara ini dapat menjadi pemantik semangat bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap sesama, menebarkan kedamaian, dan menjadi pribadi yang lebih baik,” tambah Santosa.

Pada akhir acara, panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan berpartisipasi, menegaskan bahwa tradisi panjang mulud adalah warisan budaya sekaligus perekat sosial yang terus hidup di tengah masyarakat. (Red)